Pekerjaan Fisik Berisiko Tinggi Terkena Dampak Otomatisasi AI

Business147 Views

Laporan terkini dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menegaskan bahwa pekerjaan yang melibatkan tenaga fisik tidak kebal terhadap gangguan yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan. Pekerja di sektor konstruksi, ekstraksi, pertanian, perikanan, kehutanan, produksi, serta transportasi material berpotensi mengalami perubahan signifikan seiring semakin maraknya teknologi robot berbasis AI.

Menurut OECD, pekerjaan rutin dan berketerampilan rendah menghadapi risiko lebih tinggi dibandingkan peran lain. Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan keterampilan kognitif non-rutin, sosial, dan kreatif cenderung lebih tahan terhadap otomatisasi. Contohnya, peran di bidang pekerjaan sosial dan pelayanan masyarakat dinilai masih sulit digantikan sepenuhnya oleh mesin.

Pekerjaan manajerial juga masuk dalam kategori yang relatif aman karena sering kali memerlukan pemikiran kreatif untuk menyelesaikan masalah. Meskipun AI telah mengubah beberapa aspek pekerjaan berketerampilan tinggi, banyak keterampilan kritis dalam peran tersebut tetap sulit diotomatisasi. Hal serupa berlaku untuk beberapa pekerjaan fisik manual seperti petugas kebersihan, pekerja pertanian, asisten persiapan makanan, dan buruh kasar.

Di sisi lain, pekerjaan di bidang pemrograman, penerjemahan, dan interpretasi menghadapi tekanan lebih besar karena kemampuan generative AI yang terus berkembang pesat. Adopsi AI secara global meningkat dari 7 persen pada 2021 menjadi 20 persen pada 2025, mempercepat pergeseran ini.

Paparan terhadap gangguan dari generative AI bervariasi luas antar industri dan okupasi, mulai dari sekitar 16 persen di beberapa bidang hingga lebih dari 70 persen di bidang lain. Variasi ini menunjukkan bahwa transisi tidak berlangsung seragam dan bergantung pada karakteristik spesifik setiap sektor.

Dalam konteks yang lebih luas, gelombang otomatisasi ini menuntut perhatian serius terhadap program reskilling dan upskilling tenaga kerja agar mereka dapat beradaptasi dengan tuntutan pasar yang berubah. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, kesenjangan keterampilan berpotensi melebar dan memengaruhi stabilitas sosial ekonomi di berbagai negara.

Selain itu, munculnya peluang kerja baru di bidang pengembangan dan pengelolaan sistem AI juga perlu diantisipasi. Permintaan terhadap keterampilan terkait AI telah meningkat hampir dua kali lipat dalam setahun terakhir, mencakup tidak hanya peran teknologi tradisional tetapi juga bidang manajemen proyek dan operasional di berbagai industri.

Di Amerika Serikat, AI bahkan disebut sebagai alasan utama pemutusan hubungan kerja pada Juni lalu, dengan industri teknologi memimpin tren tersebut. Meski demikian, adopsi teknologi ini juga mendorong transformasi digital yang lebih luas di luar sektor teknologi murni.

Secara keseluruhan, perkembangan AI menyerupai penetrasi listrik di masa lalu, di mana hampir seluruh organisasi pada akhirnya akan membutuhkannya. Tantangan utama yang tersisa adalah memastikan bahwa manfaat teknologi ini dapat dirasakan secara inklusif sambil memitigasi risiko terhadap lapangan kerja yang ada.